TINJAUAN UMUM 'MUBALLIG' , DA'I

 

A.   Tinjauan Tentang Muballigh

Mubaligh berasal dari kata tabligh. Adapun pengertian tabligh menurut Tata Sukayat  mengatakan bahwa:

“Kata tabligh merupakan bahasa Arab, yang berasal dari akar kata: ballagha, yuballighu, tablighan yang berarti menyampaikan. Tabligh adalah kata kerja transitif, yang berarti membuat seseorang, menyampaikan atau melaporkan”.[1]

Sementara Mahmud Yunus, kata “Muballigh berarti yang menyampaikan”.[2]

Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia, “Muballigh berarti juru dakwah; orang yan menyebar luaskan atau menyiarkan agama Islam”.[3]

Dari beberapa pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa Muballigh adalah seorang juru dakwah yang berusaha meneruskan dan melestarikan ajaran Islam, dengan jalan meningkatkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat.  Muballigh yang dimaksud dalam hal ini adalah seseorang yang memberikan pengajaran pendidikan agama Islam dalam pendidikan formal, non formal, maupun informal.

Dalam konteks ajaran Islam, tabligh adalah penyampaian dan pemberitaan tentang ajaran-ajaran Islam kepada umat manusia, yang dengan penyampaian dan pemberitaan tersebut, pemberitaan menjadi terlepas dari beban kewajiban memberitakan dan pihak penerima berita menjadi terikat dengannya. Dan ilmu yang mempelajari tentang tabligh disebut ilmu tabligh, yaitu:

Sukayat, Tata, mengemukakan bahwa: “ilmu tabligh adalah ilmu yang membahas tentang tata cara melakukan tabligh al-Islamiyah dengan metode ilmiah dengan pendekatan istiqra, istinbath, iqtibas, dan istiqra demi tegaknya kebenaran dan keadilan”[4].

Sedangkan dalam konsep Islam, tabligh merupakan salah satu perintah yang dibebankan kepada para utusan-Nya. Bahkan diantara kesempurnaan Nabi Muhammad SAW. Adalah beliau memiliki empat sifat, yaitu: shidiq, amanah, fathonah, dan tabligh.

Sifat tabligh yang dimiliki Nabi Muhammad SAW. merupakan sifat wajib yang harus ada pada diri Rasulullah, karena Rasulullah saw. Menerima wahyu dari Allah SWT. Yang harus disampaikan kepada umatnya. Dengan demikian, perintah tabligh itu merupakan perintah yang langsung dari Allah SWT.

Dari segi sifatnya, perintah tabligh tidak berisifat insidental melainkan bersifat kontinue yakni sejak Nabi Muhammad SAW. Diangkat sebagai utusan Allah sampai menjelang kematian beliau. Hal ini sebagai mana dijelaskan dalam al-Qur’an Surah al-Maidah ayat 67 :

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ وَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسَالَتَهُ وَاللَّهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّاسِ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الْكَافِرِينَ

Terjemahnya:

 

Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.[5]

 

Firman Allah pada ayat tersebut, sebagai perintah Allah kepada Rasulullah SAW. Agar melaksanakan tabligh, yang sekaligus merupakan perintah kepada umatnya. Berkaitan dengan kewajiban tabligh ini, terdapat beberapa hadits Rasulullah SAW. Yang menjelaskannya, antara lain : “Sampaikanlah apa-apa dari aku, walaupun hanya satu ayat. Agar yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir”.[6]

      Sedangkan dari segi materi (mawdhu) tabligh, materi dalam beberapa ayat al-Qur’an di bawah ini:

1. Surah al-Araf ayat 62,

öNä3äóÏk=t/é& ÏM»n=»yÍ În1u ßx|ÁRr&ur ö/ä3s9 ÞOn=÷ær&ur šÆÏB «!$# $tB Ÿw tbqßJn=÷ès? ÇÏËÈ

Terjemahnya:

 

Aku sampaikan kepadamu amanat-amanah Tuhanku dan aku memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui.[7]

 

2. Surah al-Araf ayat 68,

öNà6äóÏk=t/é& ÏM»n=»yÍ În1u O$tRr&ur ö/ä3s9 îw¾¾$tRîûüÏBr& ÇÏÑÈ

Terjemahnya:

 

Aku menyampaikan amanat-amanah Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.[8]

 

3. Surah al-Jin ayat 28,

zOn=÷èuÏj9 br& ôs% (#qäón=ö/r& ÏM»n=»yÍ öNÍkÍh5u xÞ%tnr&ur $yJÎ/ öNÍköys9 4Ó|Âômr&ur ¨@ä. >äóÓx« #OŠytã

Terjemahnya:

 

Supaya Dia mengetahui, bahwa sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah-risalah Tuhannya, sedang (sebenarnya) ilmu-Nya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu[9]

 

4. Surah al-A’raf ayat 93,

4¯<uqtGsù öNßg÷Ytã tA$s%ur ÉQöqs)»tƒ ôs)s9 öNà6çGøón=ö/r& ÏM»n=»yÍ În1u àMós|ÁtRur öNä3s9 ( y#øs3sù 4y#uä 4n?tã 7Qöqs% šúï̍Ïÿ»x. ÇÒÌÈ

Terjemahnya:

 

Maka Syuaib meninggalkan mereka seraya berkata: "Hai kaumku, sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu amanat-amanah Tuhanku dan aku telah memberi nasihat kepadamu. Maka bagaimana aku akan  bersedih  hati  terhadap orang-orang yang kafir ?[10]

 

Sebagaimana pernyataan-pernyataan di atas, dapat dipahami bahwa Muballigh adalah seorang juru dakwah yang berusaha meneruskan dan melestarikan ajaran Islam, dengan jalan meningkatkan pengertian, kesadaran, penghayatan dan pengamalan ajaran Islam di tengah-tengah masyarakat dan memiliki peranan penting dalam penyebaran agama Islam, termasuk mengantisipasi perkembangan kepercayaan terhadap kekuatan mistik yang tidak sesuai dengan ajaran agama Islam dengan melaui pendidikan formal, non formal, dan informal.

Untuk lebih memperjelas pemahaman kita tentang muballigh yang dimaksud, maka akan diuraikan beberapa aspek pendidikan Islam sebagai berikut::

1.     Pengertian  Pendidikan  Islam

sebelum  penulis  menguraikan  lebih  jauh  tentang  pengertian  Pendidikan Islam,  terlebih  dahulu  akan  dikemukakan  pengertian  pendidikan  Islam  secara  umum.

Dalam  bahasa  Arab  ada  beberapa  istilah  yang  biasa  diperlukan  dalam  pengertian  pendidiikan  antara  lain:  “Tarbiyah”, ( تربية ) asal  kata  “rabba”  (mendidik);  pendidikan.[11]  Kata  rabba  (mendidik),  sudah  digunakan   pada  zaman  nabi  Muhammad  SAW. Seperti  terlihat  dalam  QS. al-Isra’ (17): 24  yang  berbunyi:

                                      #ZŽÉó|¹ÎT$u­u $yJx.$yJßg÷Hxqö$#>§ . . .

Terjemahnya:

Wahai Tuhanku,  kasihanilah  mereka  keduanya,  sebagaimana mereka   berdua  telah  mendidik  aku  di  waktu  aku  kecil.[12]

 

Dalam  ayat  tersebut  dalam  bentuk  kata  benda,  kata  rabba  ini  digunakan  juga  untuk  Tuhan,  ini  dikarenakan  Tuhan  bersifat  mendidik,  mengasuh,  memelihara,  dan  juga  mencipta.

Hasan  Langgulung  mengatakan  bahwa  istilah  pendidikan  atau  dalam  bahasa  Inggerisnya  disebut   education  berasal  dari  bahasa  latin  educare  yang  berarti  memasukkan  sesuatu;  memasukkan  ilmu  ke  kepala  orang.[13]

Adapun  pengertian  pendidikan  menurut  istilah, maka akan  dikemukakan beberapa pendapat para ahli tentang pengertian  pendidikan  diantaranya.

Ahmad  D. Marimba  mengemukakan  bahwa: ”Pendidikan adalah  bimbingan  atau  pimpinan  secara sadar  oleh si pendidik  terhadap  perkembangan  jasamani  dan  rohani  si  terdidik  menuju  terbentuknya  kepribadian   yang  utama.”[14]

Undang-Undang Dasar Ripublik Indonesia Nomor 2 Tahun 1989 tentang sisitem Pendidikan Nasional bab II pasal 4 mengatakan bahwa:

Pendidikan Nasional bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahua yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.[15]

 

Sedangkan menurut Undang-Undang Republik Indonesia nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa:

Pendidikan adalah : “Usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.”[16]

 

Menurut beberapa pengertian  pendidikan yang telah dikemukakan   tersebut diatas, maka penulis dapat menarik suatu kesimpulan  bahwa  pendidikan  adalah  suatu  usaha  sadar  yang  dilakukan  oleh  orang  dewasa  atau  pendidik  untuk  membina  dan  mengembangkan  potensi-potensi  yang  dimilikinya  baik  jasmani  maupun  rohani  menuju  kepada  terbentuknya  kepribadian  yang  mulia dan  utama.

Oleh karena itu, pendidikan mempunyai ruang lingkup yang lebih  luas dari pendidikan lainnya, karena pendidikan Islam memerlukan  persyaratan pendidikan  lainnya.  Apabila  dalam  pendidikan  lainnya  cukup  mengetahui  yang  berkenaan  dengan  pengetahuan  yang  disampaikan,  maka  dalam penidikan   Islam  masih  dituntut  orang  yang  betul-betul  melaksanakan  atau  mengamalkan  ajaran  dan  nilai-nilai  pendidikan  Islam dalam  kehidupan  sehari-hari.

Untuk  mendapatkan  pengertian  pendidikan  Islam  yang  lebih  jelas,  akan  diuaraikan  beberapa  pendapat  dari  para  ahli  tentang  pengertian   pendidikan  Islam.

Ahmad  D. Marimba  mengatakan  bahwa: “Pendidikan  Islam  adalah  bimbingan  jasmani  dan  rohani  berdasarkan  hukum-hukum  Agama  Islam  menuju  terbentuknya  kepribadian  utama  menurut  ukuran-ukuran  Islam”.[17]

Menurut  pengertian  pendidikan  Islam  yang  dikemukakan  tersebut  ada  tiga  unsur   yang  mengandung  tegaknya  pendidikan  Islam.  Pertama,  harus  ada  asuhan yang  berupa  bimbingan  bagi  pengembangan  potensi  jasmani  dan  rohani  anak  didik  secara  seimbang. Kedua, usaha tersebut  berdasarkan  atas ajaran Islam,  yaitu  Al-quran  Hadits  dan  yang  ketiga  adalah  adanya  usaha  yang  bertujuan  agar  anak  didik   pada  akhirnya  memiliki  kepribadian  utama  menurut  ukuran  Islam  (kepribadian  Islam).

Kemudian Zuhairini,  juga  mengatakan  bahwa: “Pendidikan  Islam  adalah  usaha  yang  diarahkan  kepada  pembentukan  kepribadian   anak  yang  sesuai  dengan  ajaran  Islam,  memikir,  memutuskan  dan  berbuat  berdasarkan  nilai-nilai  Islam.”[18]

Dari  uraian  di atas  dikatakan  bahwa  pendidikan   Islam   berupaya  untuk  membimbing   dan  mengembangkan  potensi  manusia  dengan  usaha-usaha  yang  sistematis  yang  berdasarkan  ajaran  agama  Islam,  baik  di  dalam  kehidupan  pribadinya  maupun  dalam  kehidupan  bermasyarakat  yang  pada  akhirnya  akan  terbentuk  kepribadian   muslim.

Berdasarkan  dari  beberapa  pengertian  pendidikan  Islam  yang  telah  dikemukakan  di atas,  maka  dapat  ditarik  suatu  kesimpulan  bahwa  pendidikan  Islam  adalah  semua  usaha  yang  berupa  bimbingan  dan  pertolongan  yang  dilakukan  secara  sadar  oleh  si  pendidik  terhadap  anak  didik  dalam  proses  perkembangan  dan  pertumbuhan  jasmani  dan  rohani  dengan ketentuan berhubungan erat dengan masalah agama, di mana agama Islam yang  mengatur dan membimbing tata  kehidupan manusia menuju terbentuknya kepribadian muslim  bertakwa kepada Allah Swt. Dan menjauhi larangan serta  menjalankan  apa  yang  diperintahkan-Nya.

             

Dari uraian di atas dikatakan bahwa pendidikan  Islam   berupaya  untuk  membimbing   dan  mengembangkan  potensi  manusia  dengan  usaha-usaha  yang  sistematis  yang  berdasarkan  ajaran  agama  Islam,  baik  di  dalam  kehidupan  pribadinya  maupun  dalam  kehidupan  bermasyarakat  yang  pada  akhirnya  akan  berbentuk  kepribadian   muslim.

Berdasarkan  dari  beberapa  pengertian  pendidikan  Islam  yang  telah  dikemukakan  di atas,  maka  dapat  ditarik  suatu  kesimpulan  bahwa  pendidikan  Islam  adalah  semua  usaha  yang  berupa  bimbingan  dan  pertolongan  yang  dilakukan  secara  sadar  oleh  si  pendidik terhadap  anak didik dalam  proses  perkembangan  dan  pertumbuhan  jasmani  dan  rohani  memiliki hubungan erat dengan  masalah  agama, dalam  hal  agama  Islam  yang  mengatur  dan  membimbing  tata  kehidupan  manusia  menuju  terbentuknya  kepribadian  muslim  bertakwa  kepada  Allah  Swt.  Dan  menjauhi  larangan  serta  menjalankan  apa  yang  diperintahkan-Nya.

2.     Dasar  dan  Tujuan  Pendidikan  Islam

a.  Dasar  Pendidikan  Islam

            Sebagai  umat  beragama,  terutama  yang  beragama  Islam,  apabila  hendak  melakukan  sesautu  perbuatan  yang  menyangkut  kebutuhan  hidupnya,  termasuk  di  dalamnya  lapangan  penidikan  senantiasa  berpatokan pada tuntunan Al-quran dan Sunnah  Rasul.  Kedua  dasar tersebut  tidak  dapat  dipisahkan  satu  dengan  yang  lainnya.  Hal  ini  menandakan  bahwa  semua  perbuatan  dan  tingkah  laku  manusia  harus  selaras  dengan  pedoman  hidup  bagi  setiap  muslim  tersebut,  sebagaimana  yang  difirmankan  Allah  dalam  QS. Al-Isra’ (17) : 9:

إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِينَ الَّذِينَ يَعْمَلُونَ الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا كَبِيرًا

Terjemahnya :

 

Sesungguhnya  Al Quran  ini  memberikan  petunjuk  kepada  (jalan)  yang lebih  lurus  dan  memberi  khabar  gembira  kepada  orang-orang  Mu'min  yang  mengerjakan  amal  saleh  bahwa  bagi  mereka  ada  pahala  yang besar”.[19]

 

            Ayat  tersebut  menunjukkan  bahwa  pendidikan  Islam yang  berfungsi sebagai sarana  penataan  individu  dan  sosial  yang  dapat  menyebabkan  seseorang  tunduk  taat  kepada  Islam  serta  menerapkannya  secara  sempurna  ke  dalam  kehidupan baik individu  maupun masyarakat haruslah  menjadikan  al-Quran  sebagai  landasannya karena  al-Quran  merupakan  kebenaran  mutlak  yang  kemudian  dijabarkan  atau  dijelaskan  oleh  hadits.

            Dikatakan  bahwa  hadits  sebagai  sumber  hukum  yang  kedua  sesudah  al-Quran.  Oleh  karena  sunnah  ini  berisi  petunjuk  (pedoman)  untuk  kemaslahatan  hidup  manusia  dalam  segala  aspeknya,  untuk  membina  umat  menjadi  manusia  seutuhnya  atau  muslim  yang  bertakwa.  Untuk  itu  Rasulullah  SAW.  Merupakan  guru  dan  pendidik  utama  bagi  umat  Islam  yang  harus  ditiru  keteladanannya.

            Oleh  karena  itu,  Sunnah  merupakan  landasan  yang  kedua  bagi  cara  pembinaan  pribadi  muslim,  sesuai  dengan  hadits  sebagai  berikut :

عن مالك انه بلغه ان رسول الله صعلم قال تركت فيكم امرين لن تضلواما انتمسكتم بهماكتاب الله وسنة نبيه  ( رواه مالك )

Artinya :

            Dari  Malik.  bahwasanya  telah  sampai  kepada  beliau  bahwa  Rasulullah  saw,  bersabda :  Saya  telah  meninggalkan  kepada  kamu  dua  hal,  kamu  tidak  akan  sesat  selain  kamu  berpegang  teguh  kepada  keduanya,  yaitu  Kitabullah  dan  sunnah   Nabinya. (HR. Malik).[20]

 

            Hadits  tersebut  di  atas  menjelaskan  bahwa  kebenaran  yang  mutlak  dan  konsekuen  di  atas  dunia  ini  adalah  kebenaran  yang  dijelaskan  di  dalam  kandungan  al-Quran  dan  Sunnah  Rasul,  juga  menjelaskan  tentang  kedudukan  Hadits  setelah al-Quran  sebagai  dasar  pendidikan  Islam  yang  utama  dan  pertama  yang  tidak  dapat  diabaikan.

            Setelah  al-Quran  dan  Hadits,  juga  ijtihad  dapat  dijadikan  sebagai  dasar  dalam  pendidikan  Islam.  Ijtihad   adalah  istilah  para  fuqaha,  yaitu  berpikir  dengan  menggunakan  seluruh  ilmu  yang  dimiliki  oleh  ilmuan  syariat  Islam  atau  para  cendikiawan  muslim  dalam  hal-hal  yang  ternyata  belum  ditegaskan  hukumnya  oleh  Al-quran  dan  Sunnah.  Ijtihad  dalam  hal  ini  dapat  saja  meliputi  segala  aspek  kehidupan  termasuk  aspek  pendidikan,  tetapi  berpedoman  pada  al-Quran  dan  sunnah,  karena  ijtihad  dipadangan  sebagai  salah   satu  sumber  hokum  Islam  yang  sangat  dibutuhkan  sepanjang  masa  setelah  Rasulullah  wafat.

            Ijtihad  di bidang  pendidiakn  ternyata  semakin  perlu  sebab  ajaran  Islam  yang  terdapat   dalam  Al-quran  dan  Sunnah  adalah  bersifat  pokok-pokok  dan  prinsip-prinsipnya  saja.  Pergantian  dan  perbedaan  zaman  terutama  karena  kemajuan  ilmu  pengetahuan  dan  teknologi,  yang  bremuara  kepada  perubahan  kepada  perubahan  kehidupan  social  telah  menuntut  ijtihad  dalam  betuk  penelitian  dan  pengkajian  kembali   prinsip-prinsip   ajaran   Islam,  sehingga  ia  bisa ditafsirkan  dengan  lebih  serasi  dengan  lingkungan  dan  kedupan  sosial  sekarang  dengan  tetap  menjaga  nilai-nilai  prinsipil   yang  terkandung  didalamnya.

b.  Tujuan  Pendidikan  Islam

            Selaras  dengan  fungsi  pendidikan  Islam  yang  menerangkan  tentang  aktifitas  pembinaan  dalam  membentuk  manusia  di  segala  aspek  kehidupannya  serta  membentuk  manusia  pembangunan  yang  bertakwa  kepada  Allah  SWT.,  dan  memiliki  ilmu  pengetahuan,  keterampilan,  juga  kemampuan  untuk  mengembangkan  dirinya  dalam  masyarakat,  bertingkah  laku  berdasarkan  norma-norma  dan  nilai-nilai  yang  sesuai  dengan  ajaran  Islam.

            Dalam  dunia  pendidikan  umumnya  dan  pendidikan  Islam  khususnya,  factor  tujuan  merupakan  suatu  yang  amat  penting  dan  mendasar.  Hal  ini  disebabkan  karena  tujuan  dalam  konsep  pendidikan   merupakan  gambaran  mengenai  sasaran  yang  ingin  dicapai  oleh  seseorang  (peserta  didik)  dalam  proses  pendidikan.

            Untuk  mengetahui  dan  memahami  lebih  jauh  tentang  tujuan  pendidikan  Islam,  maka  di  bawah  ini  penulis  akan  mengetengahkan  beberapa  pendapat  para  pakar  pendidikan.

      Mohammad   Athiyah  Al-Abrasy  dalam  kajiannya  tentang  pendidikan  Islam  telah  menyimpulkan  5 (lima)   tujuan  yang  asasi  bagi  pendidikan  Islam  yang  diuraikan  dalam  Tarbiyah  Al-Islamiyah  wa  Falsafatuha,  yaitu :

1.    Untuk mengadakan pembentukan akhlak yang mulia.  Kaum  muslimin  dari  dahulu  kala  sampai  sekarang  setuju  bahwa  pendidikan  akhlak  adalah  inti  pendidikan  Islam,  dan  bahwa  mencapai  akhlak  yang  sempurna  adalah  tujuan  pendidikan  yang  sebenarnya.

2.    Persiapan untuk kehidupan akhirat.  Pendidikan  Islam  bukan  hanya menitik  beratkan  pada  keagamaan  saja,  atau  pada  keduniaan  saja, tetapi pada kedua-duanya  sekaligus.

3.    Persiapan untuk mencari rezeki  dan  memelihara    segi  manfaat  atau  yang  lebih  terkenal  sekarang ini dengan  nama  tujuan-tujuan vokasional  atau  profesional.

4.    Menumbuhkan  semangat  ilmiah  pada  pelajar  dan  memuaskan  keinginan  tahu  (curiosity) dan  kemungkinan  mengkaji  ilmu  demi  ilmu  itu sendiri.

5.    Menyiapkan  pelajar  dari  segi  professional,  teknikal   dan  pertukangan  supaya  dapat  menguasai  profesi  tertentu,  dan  ketrampilan  pekerjaan  tertentu  agar  dapat  mencari  rezeki dalam hidup di samping memelihara  segi  kerohanian  dan  keagamaan.[21]

 

Sementara Ahmad D. Marimba, membedakan tujuan  pendidikan Islam, antara tujuan sementara dengan tujuan akhir.  Menurutnya  tujuan  sementara  adalah : 

“Tercapainya kecakapan  jasmani,  pengetahuan  membaca,  menulis,  pengetahuan  ilmu-ilmu  kemasyarakatan,  keagamaan,  kedewasaan  jasmaniah  dann rohaniah. Adapun  tujuan  akhir  dari  pendidikan  Islam  adalah  terbentuknya  kepribadian  muslim”.[22]

 

Selain itu H.M. Arifin juga merumuskan tujuan akhir  pendidikan Islam sebagai  berikut :

“Merealisasikan manusia muslim  yang  beriman  dan  bertakwa  serta  berilmu  pengetahuan yang mampu mengabdikan  dirinya  kepada  khaliknya  dengan  sikap  dan  kepribadian  bulat  yang  merujuk  kepada  penyerahan  diri  kepada-Nya  dalam  segala  aspek  hidupnya, duniawiah  dan ukhrawiah. Atau  menjadi  manusia  yang  berkepribadian  muslim  yang bulat lahiriah  dan  bathiniah yang mampu mengabdikan segala amal  perbuatannya atau mencari keridhoan  Allah”.[23]

 

            Dengan  demikian  dapatlah  dikemukakan  bahwa  tujuan  pendidikan  Islam  adalah  menanamkan  taqwa, akhlak  dan  kemampuan  teknis  serta  menegakkan  kebenaran  dalam  rangka  membentuk  manusia   yang  berpribadi  dan  berbudi  luhur  menurut  ajaran  Islam serta  mempunya  nilai  funsional  baik  baik  bagi  diri  sendiri,  agama,  keluarga,  masyarakat,  bangsa  dan  negaranya.   Oleh  karena  itu,  pendidikan  Islam  harus  mampu  menciptakan  manusia  muslim  yang  berilmu  pengetahuan  tinggi,  di  mana  iman  dan  takwa  menjadi  pengendali  dalam  penerapan   atau  pengamalannya   dalam  kehidupan  sehari-hari.

            Jadi dengan demikian, tujuan akhir dari pada  pendidikan Islam terletak di dalam  sikap  penyerahan  diri  sepenuhnya kepada Allah pada tingkat  individual, masyarakat  dan  pada  tingkat  kemanusiaan  pada  umumnya.

            Tujuan  hidup  seperti  di  atas,  sesuai  dengan  maksud  dan tujuan  penciptaan manusia  di muka bumi ini,  yaitu  untuk  mengabdi dan menyembah  kepada  Allah  SWT. Hal   ini  sebagai mana dijelaskan oleh Allah dalam Q.S  Adz-Dzaariyat (51) :  56

$tBur àMø)n=yz £`Ågø:$# }§RM}$#ur žwÎ) Èbrßç7÷èuÏ9

Artinya:

 

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[24]

 

Menurut  ayat di atas,  jelaslah  bagi  kita  bahwa  tujuan  pendidikan  Islam  itu  tidak sempit, melainkan  menjangkau  seluruh  lapangan  hidup  manusia  yang  bertitik  optimal  pada  penyerahan  diri  manusia  kepada  khaliknya  yaitu  Allah  SWT.,  hal  ini  pun  sesuai  dengan  firman  Allah  dalam  Q.S  al-Bayyinah (98): 5 yang berbunyi:

!$tBur (#ÿrâÉDé& žwÎ) (#rßç6÷èuÏ9 ©!$# tûüÅÁÎ=øƒèC ã&s! tûïÏe$!$# uä!$xÿuZãm (#qßJÉ)ãƒur no4qn=¢Á9$# (#qè?÷sãƒur no4qx.¨9$# 4 y7Ï9ºsŒur ß`ƒÏŠ ÏpyJÍhŠs)ø9$# ÇÎÈ

Terjemahnya :

 

“Padahal mereka tidak disuruh  kecuali  supaya  menyembah  Allah  dengan memurnikan  ketaatan  kepada-Nya  dalam  (menjalankan)  agama  yang  lurus, dan  supaya  mereka  mendirikan  shalat  dan  menunaikan  zakat;  dan  yang demikian  Itulah  agama  yang  lurus”.[25]

 

            Dari berbagai  uraian  tersebut  diatas,  maka  dapat  disimpulkan  bahwa  pendidikan  Islam  bertujuan  membentuk  manusia yang beriman, berilmu dan berakhlak mulia  (berakhlakul karimah). Komponen-komponen  inilah  yang  mampu  mengantarkan manusia  kepuncak  kesempurnaan  kemuliaan  hidup  sebagai  mana  dalam  firman  Allah  dalam Q.S At-Tiin  (95): 4-6  yang  berbunyi  sebagai  berikut:

ôs)s9 $uZø)n=y{ z`»|¡SM}$# þÎû Ç`|¡ômr& 5OƒÈqø)s? ÇÍÈ ¢OèO çm»tR÷ŠyŠu Ÿ@xÿór& tû,Î#Ïÿ»y ÇÎÈ žwÎ) tûïÏ%©!$# (#qãZtB#uä (#qè=ÏHxåur ÏM»ysÎ=»¢Á9$# óOßgn=sù íô_r& çŽöxî 5bqãYøÿxE ÇÏÈ

 

Terjemahnya :

 

“Sesungguhnya  kami  telah  menciptakan  manusia  dalam  bentuk  yang sebaik-baiknya .

Kemudian kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali  orang-orang  yang  beriman  dan  mengerjakan  amal  saleh;   maka bagi  mereka  pahala  yang  tiada  putus-putusnya”.[26]

 

            Ayat  inilah  yang  merupakan  tujuan  utama  pendidikan  Islam  tersebut,  yaitu  membina  manusia  agar  menjadi  orang yang  beriman  serta  dapat  melaksanakan  segala  kebaikan  atau  yang  biasa  disebut  dalam  Al-quran  dengan   beramal  shaleh,  sehingga  terwujudnya  kepribadian  muslim  yang  paripurna  dalam  mengembangkan   kehidupan  dunia  akhiratnya  di atas  landasan  dan  bertakwa  kepada  Allah.

3.  Hakekat  Pendidikan  Islam

            Pendidikan  Islam   pada  hakekatnya  adalah  proses  membimbing  dan  mangarahkan   pertumbuhan  dan  perkembangan  anak  didik  agar  menjadi  manusia  dewasa  sesuai  dengan  tujuan  Islam.

      Dalam  hubungannya  dengan  pembahsan  di  atas,  H. M. Arifin  menjelaskan   bahwa:

Hakekat  pendidikan  Islam  adalah   usaha  orang  dewasa  muslim  yang  bertakwa  secara  sadar  mengarahkan  dan  membimbing  pertumbuhan  serta  perkembangan  fitrah  (kemampuan  dasar)  anak  didik  melalui  ajaran  Islam  kearah  titik  maksimal  pertumbuhan  dan  perkembangannya.[27]

           

            Dari  defenisi  tersebut  terlihat  jelas  bahwa  pendidikan   Islam  itu  tidak  hanya  menumbuhkan,  melainkan  mengembangkan  fitrah  atau  kemampuan  dasar  yang  dianugrahkan  oleh  Allah  kepada  manusia  yang  dibawah  sejak  lahir,  juga  tidak  hanya  suatu  proses  yang  sedang  berlangsung,  melainkan  suatu  proses  yang berlangsung  kearah  sasarannya  yaitu  sampai  tercapainya  tujuan  akhir  pendidikan  Islam  yaitu  manusia  dewasa  yang  mukmin/muslim,  muhsin  dan  muhlisin  muttaqin.



    [1] Tata Sukayat, Haji, 2009, Quantum Dakwah, Rineka cipta, Jakarta, hal. 87

    [2] Yunus Mahmud, 1989, Kamus Arab – Indonesia, Mahmud Yunus Wadzurriyyah, Jakarta, hal. 72

    [3] Tim Prima Pena, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Gita Media Press, hal. 539

[4] Tata Sukayat, Haji, 2009, Quantum Dakwah, Rineka cipta, Jakarta, h. 88

    [5] Depertemen Agama RI, Alqur’an  dan Terjemahnya, 1998, Toha Putra, Semarang, hal: 221

    [6] Tata Sukayat, Haji, 2009, Quantum Dakwah, Rineka cipta, Jakarta, hal: 89

     [7] Op.Cit, hal: 302

[8] Departemen Agama RI, Op.Cit, H: 303

[9] Departemen Agama RI, Op.Cit, H: 1184

[10] Departemen Agama RI, Op. Cit, Hal: 309

[11] Yunus Mahmud, 1989, Kamus Arab – Indonesia, Mahmud Yunus Wadzurriyyah, Jakarta.

 

[12] Departemen Agama RI, Op.Cit, h. 428.

[13] Hasan  Langgulung, 1987, Asas-asas Pendidikan Islam, Pustaka al-Husna, Cet. II; Jakarta, h. 4.

 

[14] Departemen Agama RI, Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Agama Islam pada SMTA,, CV Multiyasa, hal: 9

 

    [15] Departemen Agama RI, 1999, Himpunan Peraturan Perundang-undangan, Tentang pendidikan Nasional (Perguruan Agama Islam),Direktorat Jendral Pembinaan Kelembagaan Agama Islam,  Jakarta, Hal: 4

   

    [16] UUD RI Nomor 20, Tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional, hal. 3

[17] Ahmad D. Marimba, 1980, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT. Al-Ma’rif, Cet. IV; Bandung, h. 23.

[18] Zuhairini, 1942, Filsafat Pendidikan Islam, Bumi  Aksara, Cet. I; Jakarta, h. 152.

    [19] Depertemen Agama RI, Alqur’an  dan Terjemahnya, 1998, Toha Putra, Semarang. Hal: 539

[20] Al-Imam Abdillah Malik bin Anas bin Malik bin Abi Amir al-Ashabi, al-Muwatha Malik, Jilid XIV, tp, t.th., h. 100

[21] Hasan  Langgulung, 1987, Asas-asas Pendidikan Islam, Pustaka al-Husna, (Cet. II; Jakrta, h. 60-61

 

[22] Ahmad D. Marimba, 1980, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT. Al-Ma’rif (Cet. IV,  Bandung, h. 46.

 

[23] H.M. Arifin, 1994, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara ,Ed. I, Cet. III; Jakarta, h. 236.

[24] Depertemen Agama RI, Alqur’an  dan Terjemahnya, 1998, Toha Putra, Semarang. Hal: 1058

[25] Ibid, Hal: 1275

[26] Ibid, Hal: 1269

[27]H.M. Arifin, 1994, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara ,Ed. I, Cet. III; Jakarta, h. 32

Comments

BERITA TERBARU !!

Popular posts from this blog

CARA MELAKUKAN TAKHRIJ HADIS

BIL MA'TSUR ( TAFSIR AYAT DENGAN AYAT )

cara atau Kaedah al-Jarh Wa al-Ta’dil Serta Aplikasinya

MOTIVASI IBADAH.com

Popular posts from this blog

CARA MELAKUKAN TAKHRIJ HADIS

BIL MA'TSUR ( TAFSIR AYAT DENGAN AYAT )

cara atau Kaedah al-Jarh Wa al-Ta’dil Serta Aplikasinya

download TAFSIR AL-NASAFIY

HADIS TARBAWIY DAN AKHLAK (BERKURANGNYA IMAN KARENA MAKSIAT)

kaedah 'ATAF - AL-'ATFU DALAM AL-QUR'AN

KRITERIA KEPALA NEGARA DALAM PERSPEKTIF HADIS

MANHAJ THABATHABAI DALAM al mizan

RUANG LINGKUP ILMU AL-JARH DAN AL-TA’DIL

AL-HALLAJ Dan YAZID AL-BUSTAMI