by ;
BASRI, M.Hum
Post ; Zaharuddin, M.Th.I
Lagi-lagi bersama saya ZAHARUDDIN, M.Th.I dalam pertemuan dunia maya di blog/website
ARTIKEL TAFSIR HADIS, demi mencapai rahmat dan hidayah-Nya walau hanya sekedar belajar aktif berkarya meskipun di dunia maya. Salam sejahtera, sehat luar biasa bagi kita semua. Amiiinn.
Teman-teman sekalian, pada kesempatan yang berbahagia ini, semoga akan menjadi waktu yang sangat bermanfaat dan dinilai ibadah oleh yang Maha Khaliq, penulis blog ini akan menghadirkan sebuah karya tulis yang dirilis oleh sahabat penulis sendiri yakni, BASRI, M.Hum dalam karyanya "
HERMENEUTIKA INTERTEKSTUAL-MUH. SYAHRUL",
Sebagaimana ungkapan singkat beliau :
Muhammad Syahrur dilahirkan pada 11 April 1938 M di Damaskus, Suriah. Ayahnya bernama Dayb ibn Dayb dan ibunya bernama Shiddi>qah binti Sha>lih Filyu>n. Anak laki-laki yang kelak akan dicatat dalam dunia pemikiran Islam sebagai seorang figur pemikir yang fenomenal sekaligus kontroversial ini mengawali karir intelektualnya pada Pendidikan Dasar dan Menengah di tanah kelahirannya sendiri, tepatnya di lembaga pendidikan Abdurrahman al-Kawakibi, Damaskus.
HERMENEUTIKA INTERTEKSTUAL / TARTIL
Dalam konstelasi pemikiran Islam Arab
kontemporer, figur seperti Syahrur sebagai pemikir liberal, memang cukup
mengejutkan. Sebab, jika dilihat dari sejarah pendidikannya, ia tidak pernah
menekuni ilmu-ilmu keislaman secara intensif. Muhammad Syahrur mulai tertarik
mengkaji Islam sejak ia bertemu dengan teman sekaligus gurunya, Ja`far Dakk
al-Ba>b yang memiliki peran yang sangat besar dalam mendukung karir
intelektual-akademik Syahrur. Berkat kesungguhannya dalam mengkaji Al-Qur`an
dan filsafat bahasa,
Syahrur berhasil menulis karya ilmiah yang tidak hanya
monumental, namun juga kontroversial, yakni al-Kita>b wa al-Qur`a>n; Qira>`ah mu`a>shirah (1990). Buku tersebut sesungguhnya merupakan hasil evolusi dan pengendapan pemikiran Syahrur yang cukup lama, yakni kurang lebih 20 tahun. Pemikiran ini tentu saja tidak terlepas dari pengaruh pemikiran tokoh-tokoh linguistik sebelumnya, yakni Ibnu Faris, Yahya bin Tsa`lab, Abu Ali
al-Farisi, Ibnu Jinni, Abdul Qahir al-Jurjani, dan Ja`far Dakk al-Ba>b.
Dalam bukunya tersebut, Muhammad Syahrur menawarkan sebuh konsep hermeneutika untuk menfasirkan Al-Qur`an yang relatif mendekati kebenaran yang disebut dengn pembacaan Tartil (intertekstual). Dalam metodenya itu, Muhammad Syahrur menggunakan pendekatan semantik dengan analisis paradigmatis dan sintagmatis setelah melakukan teknik intertekstualitas. Kedua analisis tersebut merupakan magnum opus analisis Syahrur dalam membahas banyak topik.
Saya kira untk sementara waktu, itu aja dulu, mungkin masih ada waktu untuk bertemu dengan izin-Nya isnya Allah, dan semooga ada berkah,,dan bermanfaat...download di sini
Comments
Post a Comment