Sahabat peminat hadis yang baik hatinya, dalam menentukan kualitas sebuah hadis, kita tidak hanya diarahkan untuk melihat saiapa yang meriwaytkan suatu hadis. tapi isi dari hadis itu juga perlu dilakukan cross chek ulang bahwa jangan sampai ada kekeliruan yang terdapat di dalamnya..
saya ada trik sedikit di bawah ini dalam cara untuk mendeteksi, mengetahui adanya kejanggalan dalam sebuah matan atau isi kandungan sebuah hadis.sebagaimana yang telah digunakan oleh ulama lainnya.
Kaidah kesahihan matan hadis yang
telah dikemukakan ulama tidak seragam. Berikut ini dikemukakan beberapa
pendapat:
1. Al-Khatib
al-Bagda>di> menyatakan matan hadis yang maqbu>l haruslah;
(a) Tidak bertentangan dengan akal sehat.
(b) Tidak bertentangan dengan hukum al-Qur’an yang telah muh{ka>m
(c) Tidak bertentangan dengan hadis mutawa>tir
(d) Tidak bertentangan dengan ijma’
(e) Tidak bertentangan dengan dalil yang sudah pasti
(f) Tidak bertentangan dengan hadis ahad yang lebih
kuat.[19]
2. Salahuddin ibn Ahmad al-Adabi> menyatakan empat macam tolok ukur penelitian matan, yakni;
(a) Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an.
(b) Tidak bertentangan dengan hadis yang lebih kuat.
(c) Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera dan sejarah.
(d) Susunan pernyataan menunjukkan ciri-ciri sabda kenabian.[20]
3. Mus{t{afa al-Siba>’i> mengemukakan kaidah-kaidah yang penting untuk kritik matan, yakni:
(a) Matan itu tidak mengandung kata-kata aneh, yang tidak
pernah diucapkan oleh orang yang ahli dalam retorika.
(b) Tidak bertentangan dengan pengertian rasional yang
aksiomatik.
(c) Tidak bertentangan dengan kaidah –kaidah umum dalam hukum
dan akhlak.
(d) Tidak bertentangan dengan indera dan kenyataan.
(e) Tidak boleh bertentangan dengan al-Qur’an atau dengan
sunnah yang mantap, atau yang sudah menjadi ijma’
(f) Tidak boleh timbul dari dorongan emosional,
yang membuat periwayat meriwayatkannya.
4. Jumhur ulama mengemukakan tanda-tanda matan hadis palsu sebagai berikut:
(a) Susunannya bahasanya rancu
(b) Kandungannya bertentangan dengan akal sehat dan sangat
sulit di interpretasi secara rasional.
(c) Bertentangan dengan tujuan pokok ajaran Islam.
(d) Bertentangan dengan hukum alam (sunnatullah).
(e) Bertentangan dengan sejarah.
(f) Bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an
ataupun hadis mutawatir yang telah mengandung petunjuk umum ajaran Islam.[21]
5. Ibn al-Jawzi> mengemukakan tolok ukur untuk meneliti matan hadis mungkar (palsu). Menyatakan setiap hadis yang bertentangan dengan yang ma’qu>l atau yang manqu>l atau pun bertentangan dengan yang sifatnya usul (pokok-pokok agama) maka hadis tersebut adalah mawdu’.[22]
Tolok ukur untuk mengetahui matan hadis yang daif atau yang mawdu’ sebagaimana disebutkan di atas menurut Syuhudi Ismail dapat dinyatakan sebagai kaidah kesahihan matan hadis.
[19]Abu> Bakar Ah{mad bin ‘Ali> bin S|abit Al-Khat{ib al-Bagda>di>, Kitab al-Kifa>yah fi> ‘Ilm al-Riwa>yah ( Mesir: Mat{ba’ah al-Sa’adah, 1972), h. 206-207.
[20] Shalahuddi>n ibn Ah{mad al-Adabi>, Manhaj Naqd al-Matn ‘Inda ‘Ulama> al-H{adi>s{ al-Nabawi> ( Beirut: Da>r al-Afa>q al-Jadi>dah, 1403 H/ 1983 M), h. 207-208.
[21] Syuhudi Ismail, “Kriteria Hadis Sahih Kritik Sanad dan Matan” dalam Yunahar Ilyas dan M. Mas’udi(ed), Pengembangan Pemikiran Terhadap Hadis ( Cet. I: Yogyakarta: Lembaga Pengkajian dan Pengalaman Islam (LPPI) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 1996), h. 9.
[22] Ibn al-Qayyim al-Jawzi>, Kitab al-Mawdu’a>t, Juz I ( Beirut: Da>r al-Fikr, 1403 H/ 1983 M), h. 106.
Syuhudi Ismail mengemukakan bahwa,” tidak cukup kuat alasan untuk menyatakan kaidah terhindar dari sya>z sebagai suatu kaidah yang berdiri sendiri”. Selanjutnya Syuhudi menyatakan, kaidah mayor kesahihan matan hadis adalah terhindar dari ‘illat dan syuzu>z.” Pernyataan yang pertama dikemukakan dalam buku, Kaedah Kesahihan Sanad Hadis.” Dalam kaitannya dengan kaidah kesahihan sanad. Sedangkan pernyataan yang kedua, dikemukakan dalam makalah, Kriteria Hadis Sahih Sanad dan Matan, dikemukakan dalam kaitannya dengan kritik matan hadis. Lihat Syuhudi Ismail, Kaedah, h. 128. Lihat juga Syuhudi Ismail, Kriteria, h. 8.
Comments
Post a Comment