Penulisan tafsir Alquran telah
menggunakan berbagai metode yang mencakup metode tahlili, ijmali, muqaran dan
mawdhu’iy. Metode tahlili adalah suatu metode yang
menjelaskan makna-makna yang dikandung ayat Alquran yang urutannya disesuaikan
dengan tertib ayat yang ada dalam mushaf Alquran.
free DOWNLOAD makalah/artikel LENGKAP
MANHAJ AL-TAFSIR
UNDUH DI SINI
Setiap metode memiliki kelebihan dan
kekurangan. Kelebihan dan kekurangan ini disebabkan oleh karena metode tafsir
adalah hasil ijtihad yang manusia yang sudah pasti tak lepas dari kekurangan
dan kelebihan. Misalnya, kelebihan dari tafsir muqaran antara lain,
memberikan wawasan relative luas; membuka diri untuk selalu bersikap toleran;
dapat mengetahui berbagai penafsiran dan membuat mufassir lebih
berhati-hati. Sedangkan kekurangan dari metode muqaran adalah kurang
cocok untuk pemula, kurang pas untuk memecahkan masalah kontemporer dan
menimbulkan kesan pengulangan pendapat para mufassir.
Jelasnya, setiap metode ini amat
penting dalam rangka mengembangkan pemikiran tafsir, yang rasional dan
objektif, sehingga mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif berkenaan
dengan latar belakang lahirnya suatu penafsiran dan sekaligus dapat dijadikan
perbandingan dan pelajaran dalam mengembangkan penafsiran Alquran pada
masa-masa yang akan datang.
Tradisi penulisan tafsir Alquran,
khususnya di Indonesia
dasawarsa 1990-an telah melahirkan pelbagai wacana yang beragam. Pada aspek
teknis penulisan tafsir, mucul pertama, sistematika penyajian tafsir runtut dan
tematik. Khusus model penyajian tematik, tampak digemari sebagian besar penulis
tafsir di Indonesia
dengan banyaknya karya tafsir yang memakai metode ini.
Kedua,
gaya bahasa
penulisan tafsir, seperti gaya
bahasa kolom, reportase, ilmiah dan popular. Selain gaya bahasa ilmiah, secara umum seluruh gaya bahasa penulisan
tafsir muncul dalam karya tafsir yang awalnya dari ceramah pada suatu jamaah
atau tulisan-tulisan di media massa
(koran maupun majalah).
Ketiga, bentuk penulisan tafsir yang memunculkan bentuk ilmiah dengan model
penyebutan sumber-sumber rujukan, seperti catatan kaki maupun catatan perut,
dan bentuk penulisan non-ilmiah. Secara umum, bentuk penulisan ilmiah dipakai
oleh karya tafsir yang muncul dari tugas akademik.
Comments
Post a Comment